Travel To Greatest Treasure - Bab 6


Bab 6

Segera setelah kami berdua memasuki ruangan, lampu lampu di lorong mati secara otomatis, dan juga terdengar suara mekanis pintu ruangan tertutup juga.

Minho mencoba membuka pintu, tetapi tidak ada pegangan pintunya. Berarti membukanya dengan tombola tau apapun.

Minho merasa hatinya kacau.

Dia sedang bersama dengan Mila, berdua di ruangan tertutup.

Minho sedang melihat sekeliling seperti mencari seseorang.

Karena kata nenek nya, jangan berduaan dengan yang bukan muhrim, karena ada yang ketiga.

Yakni setan.

Mila menggelengkan kepalanya.

Sepertinya dia sudah lelah berlari – lari, dan tidak mau menanggapi tingkah aneh Minho.

Mila kemudian mendekati Minho.

Kecurigaan Minho terbukti.

Mila disini akan berbuat tidak senonoh dengan nya.

Minho membayangkan awal pertemuan dirinya dengan Mila, dan segala yang terjadi dalam hidupku ini… eh koq nyanyi pula, segala yang terjadi sebelum sampai ke sini, memberikan kesimpulan bahwa Mila memang ingin mendekati Minho karena sesuatu hal. Dan sepertinya hal yang di tunggu akan terjadi.

Mila selangkah demi selangkah mendekati Minho.

Minho juga melakukan hal yang sama.

Selangkah demi selangkah menjauhi Mila.

Mila maju selangkah, Minho mundur selangkah.

Mila diam saja melihat tingkah aneh Minho. Tapi Mila tidak peduli.

Dia tetap mendekati Minho.

Sampai akhirnya, Minho tiba di dinding ruang. Tidak ada lagi jalan untuk mundur. Sementara dalam 4 langkah lagi, Mila sudah berada di depan Minho.

Jantung Minho berdetak dengan sangat kencang. Jika di ukur dengan alat untuk mengukur detak jantung, mungkin alat tersebut akan rusak, karena tidak sanggup mengukur betapa kencangnya jantung Minho berdetak.

Akhirnya Mila sudah tiba di depan Minho.

Karena ruangan yang sangat terang, Minho bisa melihat wajah Mila dengan sangat jelas.

Mila memang wanita yang sangat cantik.

Melihat paras nya, sepertinya Mila dan Minho seumuran.

Ditambah lagi dengan body yang baik, Minho mendapati bahwa dia menelan ludahnya sendiri ketika melihat Mila sudah di depan dirinya. Mila pun menatap mata Minho.

Minho jadi semakin salah tingkah.

Minho tiba – tiba teringat sesuatu.

Apakah Mila akan benar – benar menggodanya?

Atau akankah Mila akan mencelakakannya? Membunuhnya?

Minho segera bergidik.

Diam – diam, Minho mengarahkan tangannya ke belakang, untuk meraih sebuat tongkat baseball.

Minho mencari – cari dengan tangannya, apa saja benda yang ada di belakang, yang bisa di pakai untuk memukul Mila.

Tapi, akhirnya Minho sadar.

Ruangan itu kosong. Manalah mungkin ada sebuah tongkat baseball.

Minho terdiam.

Dia melihat, perlahan, Mila mengangkat tangannya.

Minho kembali merasa takut.

Apakah akhirnya Mila akan menggunakan senjata rahasia dari Perangkat Spy milik alm kakaknya untuk membunuh Minho.

Perlahan, tangan Mila di arahkan ke leher Minho.

O’oo, apakah akhirnya Mila memutuskan membungkamku dengan mencekik leherku. Apakah dia memiliki kemampuan itu? Huhh… kita liat saja. Kalau tidak aku yang terbunuh, berarti aku yang membunuh.’ batin Minho.

Minho segera merencanakan dalam pikirannya, hampir sepuluh simulasi apa yang akan terjadi dalam detik berikutnya. Minho siap menanti kejutan. Jika benar Mila akan mencekik dirinya, maka Minho secara terpaksa akan melakukan pembelaan diri. Tidak peduli apakah lawannya seorang wanita. DIbunuh atau membunuh.

Akhirnya saat yang di tunggu segera tiba. Ketika tangan Mila tinggal sekitar lima centi meter lagi dari leher Minho, Mila kembali menarik tangannya.

‘Apakah Mila sadar bahwa dia akan terluka jika dia mencoba menyerangku?’ pikir Minho bingung atas perubahan kejadian.

Tetapi yang mengikuti berikutnya, menyadarkan lamunannya.

Minho melihat Mila telah berhasil menarik kalung gading hitam dari lehernya.

Ternyata tujuannya adalah kalung ini.

‘What… apa yang kupikirkan?’ batinku bingung atas segara pemikiran dan simulasi yang akan terjadi yang kubayangkan beberapa saat sebelumnya.

“Dirimu, Minho. Terlalu banyak berpikir yang tidak – tidak,” ucap Mila seolah dia bisa membaca apa yang ada dalam pikiranku.

“Eng… ing… eng…. Enggak ada pikir apa –  apa koq…” ucap Minho dengan gugup, malu atas pemikirannya sebelumnya.

“Lampu mati…” teriak Mila.

Seketika seluruh lampu di dalam ruangan mati. Kecuali satu lampu kotak berwarna merah yang berada di atas meja rias Mila.

Minho terkejut. Berarti seperti film – film juga, yakni ruangan ini menggunakan sensor suara untuk melakukan sesuatu.

Minho pun coba berbuat hal yang sama.

“Lampu, hidup…” ucap Minho mencoba.

Minho merasa dia hanya bercanda, manalah mungkin, kecerdasan buatan disana, melaksanakan perintah dari nya. Dia kan tamu disini, mana mungkin data suara nya ada pada system di ruangan itu.

Tetapi hal yang tidak diinginkan terjadi.

Lampu ruangan hidup kembali.

Minho terkejut, dan begitu pun Mila.

Seharusnya, sistem kecerdasan buatan di ruangan tersebut, hanya mendengarkan dirinya sebagai majikannya, selain kakak nya pastinya. Tetapi ini, sistem tersebut malah mendengarkan perintah pendatang baru seperti Minho.

‘Apakah alat tersebut rusak?’ tanya Mila dalam hati. Tetapi tidak mungkin. Sistem kecerdasan buatan di ruangan ini memang di desain oleh pembuat, dengan menggunakan bagian dari sistem pernukliran sebagai tenaga, sehingga tidak akan pernah rusak, kecuali ruangan ini dimusnahkan, misalnya di bakar atau di bom. Tiba – tiba, Mila menyadari sesuatu. Sistem kecerdasan buatan di ruangan ini kan dibuat oleh ‘orang itu’. Tentu saja, sistem kecerdasan buatan di ruangan ini merespon suara Minho. Mila akhirnya mengerti. Kemudian dia berkata kepada Minho.

“Jangan resek ya Minho. Biarkan aku bekerja. Biar kita bisa menuju target berikutnya.” ujar Mila sambil menatap dingin kepada Minho. Minho pun diam.

“Lampu, mati…” ucap Mila melanjutkan.

Kembali, lampu di ruangan tersebut mati. Mila kemudian menuju meja riasnya.

Mila mengetuk sebuah tempat di meja tersebut, dan tempat berukuran 100 centimeter persegi pada meja tersebut sedikit terbuka. Di dalam nya ada sebuah tombol. Mila kemudian menekan tombol tersebut.

Program penghancuran diri diterima.

“Tiga…”

“Dua…”

“Satu…”

Minho segera berjongkok dan menutup matanya. Di pikiran Minho, dia akan segera menjadi daging bakar. Sisi positifnya, Minho bisa segera bertemu neneknya, dan juga kedua orang tuanya.

Minho menunggu beberapa saat sebelum mendengar Mila berkata.

“Dirimu kenapa berjongkok, Minho? Sakit perut? Disini bukan toilet ya?” ujar Mila kepada Minho.

Minho membuka mata. Dia tidak menemukan sesuatu terjadi pada dirinya. Apakah dia selamat? Atau dia sudah bertambah kuat, sehingga tidak berpengaruh terhadap ledakan? Pikiran pikiran seperti itu. Tetapi setelah memikirkan, seharusnya tidak terjadi sebuah ledakan. Bahkan bara api sedikitpun tidak tampak dalam ruangan.

Minho melihat ke atas.

Tiba tiba, di udara muncul banyak program komputer virtual. Seperti di film – film itu lah. Ada tiga layar virtual kecil, yang berisi angka – angka, dan sebuah layar virtual besar, yang menampilkan peta dunia. Ruangan ini benar – benar sebuah laboratorium.

Mila mengambil sebuah alat pemindai.

Mila segera memindai gading hitam yang berasal dari kalung Minho.

Tiba - tiba, tiga layar kecil terus menunjukkan kegiatan seperti menghitung sesuatu. Data berhasil di peroleh dari gading hitam, setelah Mila melakukan pemindaian.

Segera terkalkulasi data – data yang berasal dari Gading Hitam.

Mila segera berjalan ke depan layar besar yang menampilkan peta dunia.

Minho mengikuti, dan berdiri di sisi Mila.

Tiba – tiba, di peta dunia, muncul sebuah titik Merah di Negara A. Negara A itu Negara dimana kami berpijak. Untuk mempermudah menuliskan cerita, dan menghindari hal yang kurang di inginkan, pada cerita ini, Negara nantinya akan dilambangkan dengan huruf dala alphabet. Negara Minho dan Mila, disebut Negara A. Nanti ada Negara B sampai Negara Z.

Kembali ke layar.

Muncul titik Merah di Negara A. Mila menekan titik tersebut secara virtual. Yang muncul setelah titik di tekan Mila, adalah gambar artefak gading hitam. Berarti titik Merah tersebut adalah titik tempat mereka saat ini.

Setelah 10 detik, muncul sebuah titik merah lain di layar. Masih di Negara A. Mila menekan titik tersebut. Ternyata yang muncul adalah gambar artefak anting biru. Mila memperbesar layar peta dengan jarinya. Artefak anting biru berada di kota AB yang berjarak 120 km dari posisi mereka sekarang. Mila segera berkata kepada Minho.

“Lihat, gading hitam ini sudah menunjukkan kegunaannya. Dan anting biru itu, adalah petunjuk kedua untuk menuju harta terbesar di dunia ini,” ucap Mila sambil menatap Minho.

“Aku akan pergi ke kota AB. Apakah kamu mau menemaniku Minho?” lanjut Mila.

Minho terdiam memikirkan.

Setelah sekian lama, Minho berkata tidak.

Kenapa dirinya harus mencari masalah dalam kehidupannya. Kalau Minho menyetujui saran Mila, sudah bisa dibayangkan apa lagi yang akan menunggu mereka pada perjalanan berikutnya.

“Lampu, hidup….” Ucap Minho.

Lampu di dalam ruang tersebut langsung hidup. Artinya, komputer – komputer virtual, harus menghilang. Karena semua komputer virtual hanya bisa digunakan saat keadaan gelap gulita.

“Maafkan aku Mila. Aku tidak berniat ikut. Aku meninggalkan gading hitam ini padamu. Aku pergi” ucap Minho seraya berjalan menuju pintu.

Mila bingung bagaimana cara menghentikan Minho.

Minho sudah sampai di depan pintu.

Minho berkata: “Pintu, buka…”

Pintunya ternyata juga terbuka. Minho merasa sangat keren saat itu.

Minho menatap Mila sejenak, sebelum berbalik untuk pergi keluar.

Baru satu langkah Minho berjalan, Minho menghentikan langkahnya ketika dia mendengar hal yang luar biasa aneh dari mulut Mila.

Minho berbalik menatap Mila yang sedang menunduk menatap lantai.

Minho tidak bisa melihat ekspresi Mila.

Yang jelas, Minho dengan sangat baik mendengar Mila berkata:

“Minho… sebenarnya, aku adalah tunanganmu….”


Travel To Greatest Treasure - Bab 6 Travel To Greatest Treasure - Bab 6 Reviewed by Novel Terjemahan Indonesia on June 06, 2022 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.