Bab 2677
“Aku tidak akan membiarkanmu
menyelesaikan serangan itu!” Dustin meraung. Tatapannya mengeras, dan dia tidak
lagi menahan diri. Energi murni mistis di dalam dirinya melonjak seperti sungai
yang mengamuk saat dia menyalurkannya ke pedang panjangnya.
Pedang itu mengeluarkan
dengungan tajam saat cahaya sian menyala di sepanjang sisinya. Sebuah bilah
spektral raksasa sepanjang 100 kaki muncul di atas kepalanya, memadat menjadi
wujud nyata.
“Tebas!” Dengan sapuan
jarinya, pedang energi raksasa itu turun dengan kekuatan dahsyat ke arah
makhluk buas yang masih mengisi daya bola energinya.
Sebelum pedang itu menghantam,
aura pedang yang sangat kuat itu mengunci ruang di sekitar makhluk buas
tersebut, sehingga tidak ada ruang baginya untuk melarikan diri.
Makhluk terbang itu merasakan
ancaman mematikan, dan mata tunggalnya melebar ketakutan. Bola energi di
mulutnya belum mencapai daya maksimum, tetapi ia terpaksa memuntahkannya lebih
awal untuk menghadapi pedang energi cyan yang besar.
Ledakan yang jauh lebih
dahsyat pun terjadi. Seluruh ngarai bergetar seolah-olah akan runtuh.
Bola energi hitam itu menahan
pedang energi cyan hanya sesaat sebelum terbelah menjadi dua dengan rapi.
Momentum pedang yang tersisa, tanpa jeda sedikit pun, menghantam tanduk binatang
buas itu tanpa ampun.
Terdengar suara retakan yang
tajam, dan tanduknya yang kokoh patah. Bilah energi itu terus meluncur ke
bawah, membelah binatang itu dari kepala hingga ekor.
Makhluk itu membeku di udara,
dan cahaya di matanya dengan cepat meredup. Sesaat kemudian, tubuhnya terbelah
menjadi dua dengan rapi. Darah menghujani saat kedua bagian itu jatuh dengan
keras ke tanah. Ia berkedut dua kali, lalu tergeletak tak bergerak.
“Apakah… Apakah ini sudah
berakhir?” salah satu penjaga tergagap, matanya tertuju pada bangkai yang
terpotong-potong itu dengan tak percaya.
Grace menghela napas lega,
meskipun matanya tak pernah lepas dari bangkai itu. Ada sesuatu yang membuatnya
gelisah. Terlalu aneh dan tidak wajar untuk mati semudah itu. Rasa takut samar muncul
di dadanya, memperingatkannya bahwa ini belum berakhir. Beberapa saat kemudian,
kegelisahannya terbukti benar.
Saat bangkai wujud kedua mulai
kehilangan kilaunya dan berubah menjadi abu-abu, transformasi lain pun dimulai.
Tubuh yang terbelah itu tidak
banyak mengeluarkan darah. Ia mulai hancur seperti patung pasir kering, larut
menjadi gumpalan asap hitam. Alih-alih menghilang, asap itu dengan cepat
berkumpul dan memadat ke arah tengah.
Gelombang energi yang jauh
lebih mengerikan dan menyesakkan daripada kedua bentuk sebelumnya—seperti iblis
kuno yang terbangun dari tidur abadi—mulai bergejolak. Di mana pun asap hitam
itu berkumpul, ruang itu sendiri terdistorsi.
Sesosok samar setinggi manusia
perlahan mulai terbentuk. Bentuknya bukan lagi seperti binatang buas. Kini
menyerupai sesuatu yang humanoid. Namun tubuhnya tertutupi oleh baju zirah
merah tua yang tampak seperti ditempa dari lava cair dan pecahan tulang.
Di bawah helmnya, berkobar dua
titik api merah menyala. Di tangannya, ia menggenggam tombak yang terbuat dari
energi gelap murni yang terus berputar dan berubah bentuk.
Wujud ketiga dari
"binatang buas" ini memancarkan gelombang energi yang terkendali
namun tak terbatas.
Mata merah menyala itu dengan
dingin "menatap" Dustin. Mata itu tidak menunjukkan emosi, hanya
keinginan murni untuk membantai dan menghancurkan. Ia hanya berdiri di sana,
tampak seperti penguasa kegelapan dan kematian mutlak di seluruh ngarai.
Dustin merasakan tekanan luar
biasa yang terpancar dari sosok itu. Tekanan itu jauh melampaui wujud
sebelumnya, hampir menyerupai pria tua yang mereka temui sebelumnya.
Ekspresi tenang di wajahnya
akhirnya memudar. Perlahan ia mengangkat pedangnya, ujungnya diarahkan ke sosok
berbaju zirah gelap itu. Tatapannya menjadi sangat tajam.
Tanpa suara atau peringatan,
sosok berbaju zirah gelap itu tiba-tiba bergerak dan menusukkan tombak hitamnya
yang bengkok ke depan. Gerakannya tampak lambat, namun seketika melintasi
puluhan meter. Di mana pun tombak itu lewat, udara itu sendiri terbelah,
meninggalkan bekas luka hitam samar di belakangnya.
Niat membunuh yang
disempurnakan hingga ke intinya—membekukan dan menargetkan Dustin secara
mutlak, tiba tanpa suara namun secepat kilat. Serangan itu menyingkirkan semua
hiasan, hanya menyisakan kecepatan dan kehancuran yang paling murni.
Pupil mata Dustin menyempit.
Kekuatan di balik pukulan ini jauh melebihi apa pun yang pernah dia rasakan
sebelumnya.
Dia tidak berani lalai. Energi
murni mistis di dalam dirinya beredar dengan kecepatan yang belum pernah
terjadi sebelumnya, dan aura pedang sian yang terkondensasi di sekitarnya
berkobar hebat.
Dustin menghela napas tajam
dan meraung, "Hancurkan!"
Pedangnya tidak mundur atau
menghindar, tetapi menyerang dengan akurasi sempurna tepat ke ujung tombak yang
gelap itu.
Suaranya cukup tajam untuk
menusuk telinga, sebuah nada tunggal yang membelah udara saat cahaya dan
kegelapan meledak di titik benturan.
Aura pedang berwarna cyan yang
terkondensasi dan energi gelap dengan panik mengikis dan melahap satu sama
lain. Tidak ada gelombang kejut yang membubung. Semua energi dikompresi ke
titik yang sangat kecil itu, membuatnya semakin mematikan. Sumber Daya Bahasa
Dustin merasakan kekuatan
dingin dan mematikan yang bercampur dengan korosi hebat merambat di sepanjang
pedangnya ke arahnya. Lengannya sedikit mati rasa. Tanah berbatu yang keras di
bawah kakinya diam-diam berubah menjadi debu dan ambles setengah kaki.
Namun, sosok berbaju zirah
merah tua itu berdiri diam. Api merah menyala di bawah helmnya berkedip sekali,
seolah agak terkejut Dustin berhasil menahan serangan itu.
Namun, ia terus menyerang.
Dengan jentikan pergelangan tangannya, tombak gelap itu melesat kembali seperti
ular berbisa yang menyerang. Kemudian ia terpecah menjadi badai bayangan tombak
yang menghantam Dustin dari segala arah. Setiap bayangan terasa sangat padat,
membawa hawa dingin yang menusuk jiwa.
Mata Dustin menajam saat ia
bergerak dengan kecepatan menyilaukan di dalam ruang yang sempit. Pedang
panjangnya menciptakan tirai cahaya sian yang tebal dan tak tembus.
Benturan cepat meletus seperti
hujan es yang menghantam batu. Cahaya pedang dan bayangan tombak berbenturan
dengan dahsyat, menyebarkan energi yang terfragmentasi dan mengukir dinding
batu di sekitarnya.
Mereka bertarung dengan
kecepatan yang hampir tak bisa diikuti mata, di mana garis-garis cahaya
berputar dan bertabrakan, mengguncang seluruh ngarai setiap kali terjadi
benturan. Pertempuran telah mencapai tingkat yang jauh melampaui apa pun yang
pernah terjadi sebelumnya.
No comments: