An Understated Dominance ~ Bab 2678

 

Bab 2678

Suasana di ngarai itu dipenuhi ketegangan yang tak tertahankan. Makhluk humanoid berbaju zirah merah tua bergerak seperti perwujudan kematian. Setiap tusukan tombaknya tepat, mematikan, dan dipenuhi energi gelap yang berusaha menghancurkan segala sesuatu yang disentuhnya.

 

Dustin mengerahkan kemampuan gerak kakinya hingga batas maksimal. Pedangnya bergerak lincah seperti baja cair, berbelit-belit dan menangkis badai bayangan tombak saat ia mati-matian mencari celah.

 

 

“Ini tidak bisa terus berlanjut,” pikirnya, pikirannya berpacu. Wujud ketiga makhluk itu tidak hanya lebih cepat dan lebih kuat dari sebelumnya, tetapi keterampilan bertarungnya hampir sempurna. Lebih buruk lagi, energinya tampak tak terbatas. Pertarungan yang hanya bersifat defensif adalah pertarungan yang sia-sia. Dia perlu menemukan satu momen yang menentukan untuk menyerang.

 

 

Dustin sengaja meninggalkan celah, membiarkan tubuhnya ragu sejenak saat ia menghindari tusukan menyamping yang sulit.

 

Mata merah menyala milik makhluk humanoid itu berkobar hebat. Tidak mungkin ia akan membiarkan kesempatan seperti itu terlewat begitu saja. Tombak hitamnya melesat ke depan seperti ular berbisa yang menyerang dari kegelapan, semakin cepat saat melesat langsung ke sisi Dustin yang tidak terlindungi.

 

Tepat ketika ujung tombak hendak menembus daging, mata Dustin menyala dengan intensitas yang tiba-tiba.

 

“Sekaranglah kesempatanku!” serunya. Alih-alih menghindar, ia menyalurkan seluruh energi internalnya ke telapak tangan kirinya. Cahaya biru tua memancar dari telapak tangannya, samar-samar membentuk simbol cahaya dan bayangan yang berputar. Dengan ketepatan yang luar biasa, ia membanting telapak tangannya tepat ke ujung tombak yang datang.

 

 

“Jelajah Pengembalian Asal!”

 

Terdengar suara yang dalam dan menggema. Itu bukan dentingan logam, melainkan dengungan energi yang secara paksa diserap dan dinetralkan.

 

Serangan Dustin, yang dipenuhi dengan esensi energi murni mistisnya, bukanlah serangan langsung. Sebaliknya, serangan itu menggunakan prinsip defleksi dan pelarutan yang mendalam yang untuk sementara waktu mengikat energi gelap yang merajalela.

 

Serangan tombak gelap itu tersendat sesaat. Namun bagi seseorang dengan kaliber seperti Dustin, itulah celah yang dia butuhkan.

 

Pedang di tangan kanannya bergerak, tetapi bukan salah satu teknik pedangnya yang cepat dan gesit seperti biasanya. Serangan ini tampak lambat, seolah-olah menyeret seluruh energi ngarai itu bersamanya.

 

Pedang itu berkobar dengan cahaya sian yang cemerlang, dan rune-rune rumit yang tak terhitung jumlahnya berkelap-kelip muncul dan menghilang di dalam pancaran cahaya itu.

 

Dari situ muncul kekuatan dahsyat dan purba—sesuatu yang terasa setua dunia itu sendiri—yang mengusir kegelapan mencekik yang memenuhi ngarai tersebut.

 

“Pemogokan Pemutusan Hubungan Kerja Abadi!” Suara Dustin rendah namun menggema.

 

Saat kata terakhir terucap, pedangnya perlahan menusuk ke depan. Serangannya tidak cepat, namun memberikan kesan luar biasa bahwa serangan itu tidak dapat dihindari atau dilawan. Rasanya seolah pedang ini tidak menargetkan ruang, melainkan waktu dan takdir itu sendiri.

 

Makhluk humanoid itu sepertinya merasakan ancaman besar yang terkandung dalam serangan itu. Ia mencoba menarik tombaknya kembali, tetapi ujungnya masih tertahan erat oleh telapak tangan Dustin.

 

 

Ia mengeluarkan jeritan metalik yang tidak manusiawi. Armor merah tua di tubuhnya bersinar terang saat ia mencoba mengerahkan pertahanan terkuatnya, dan api merah di bawah helmnya berkobar liar. Namun, semua perlawanan sia-sia di hadapan "Serangan Pemutusan Abadi".

 

Pedang panjang Dustin diam-diam menembus lapisan penghalang energi gelap yang didirikan secara tergesa-gesa dan menyentuh bagian tengah pelindung dada monster itu. Namun, tidak ada ledakan dahsyat atau semburan darah yang mengerikan.

 

Untuk sesaat, waktu itu sendiri seolah membeku. Dengan titik kontak sebagai pusatnya, retakan-retakan halus tak terhitung jumlahnya berupa cahaya sian menyebar seperti jaring laba-laba di seluruh tubuh makhluk itu.

 

Zirah merah tua yang tampak tak terkalahkan, bersama dengan tubuh di baliknya, mulai hancur sedikit demi sedikit di bawah ancaman pedang yang membawa kehancuran sekaligus kelahiran kembali.

 

Bab Lengkap

An Understated Dominance ~ Bab 2678 An Understated Dominance ~ Bab 2678 Reviewed by Novel Terjemahan Indonesia on July 09, 2026 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.