An Understated Dominance ~ Bab 2667

 

Bab 2667

Bangau itu lenyap dalam kepulan darah, dan perkemahan itu diselimuti keheningan yang mencekam. Jeritan Judith tertahan di tenggorokannya saat dia mencengkeram belati begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

 

Beberapa saat yang lalu, dia mengagumi gerakan anggun burung bangau itu. Sekarang dia menyaksikan dengan ngeri saat darah melayang tertiup angin, dan bulu-bulu putih bercampur dengan potongan daging berjatuhan di rerumputan. Pemandangan itu membuat bulu kuduknya merinding, membuatnya menggigil.

 

“Nona Linsor, syukurlah Anda menghentikan saya. Kalau tidak…” ucapnya terhenti. Jika dia melangkah lebih dekat lagi, dia akan berakhir seperti bangau itu, berubah menjadi gumpalan darah. Kesadaran itu membuatnya diliputi rasa takut yang berkepanjangan.

 

Dengan ekspresi muram, Grace berkata, ”Itulah yang membuat konfrontasi mental antara para ahli tingkat tinggi begitu menakutkan. Energi mental mereka telah mencapai titik di mana ia dapat membentuk ranah fisik.”

 

“Apa pun makhluk hidup yang berkeliaran masuk akan hancur lebur, seperti serangga yang terinjak. Bahkan tulang pun tidak akan tersisa.”

 

Para prajurit di sekitar mereka tak lagi berani berbicara, dan mereka mundur beberapa langkah. Mata mereka tertuju pada dua sosok di udara, terbelalak karena campuran kekaguman dan ketakutan yang luar biasa.

 

Tak seorang pun berani bersuara, bahkan napas mereka pun menjadi dangkal. Mereka takut mengganggu dua makhluk perkasa yang terkunci dalam konfrontasi mereka.

 

Saat itu, kesadaran Dustin dan Thymaleon telah sepenuhnya memasuki alam mental. Di dalamnya, tidak ada langit dan tidak ada daratan. Hanya hamparan samudra biru tua yang tak berujung.

 

Laut itu sangat tenang, seperti safir yang membeku. Tidak ada sinar matahari yang menyentuh permukaan. Dari waktu ke waktu, gemuruh rendah terdengar dari kedalaman, menimbulkan riak samar yang menyebar ke luar. Tidak ada angin, tetapi tekanan tak terlihat seolah menekan mereka. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan pecahan es.

 

Dustin berdiri di atas sebuah perahu kecil berwarna abu-biru yang terbuat dari aura pedang yang terkondensasi. Lambungnya tajam seperti bilah pedang, dan setiap kali terombang-ambing oleh ombak, perahu itu mengukir bekas goresan pedang dangkal di permukaan air.

 

Ia mengenakan jubah putih yang tampak sangat kontras dengan hamparan biru tak berujung. Pedang panjang di tangannya berkilauan dengan cahaya biru yang dingin dan menusuk. Pola-pola seperti awan pada bilahnya berdenyut lembut mengikuti napasnya.

 

Thymaleon melayang sekitar seratus yard jauhnya. Cahaya putih di sekitarnya berubah menjadi bentuk seekor paus putih raksasa.

 

Tubuhnya berkilauan seperti mutiara. Dengan sekali kibasan ekornya, ia menciptakan gelombang setinggi hampir 30 kaki. Puncak gelombang itu membawa kejutan mental yang tajam, seperti pedang-pedang kecil yang tak terhitung jumlahnya yang menerjang langsung ke arah Dustin.

 

“Hanya itu yang kau punya? Dan kau berani menghentikanku?” Suara Thymaleon bergema di alam pikiran.

 

Dustin menyipitkan matanya sambil menggenggam gagang pedangnya. Bilah pedang mengeluarkan dengungan rendah, dan semburan aura pedang berwarna cyan melesat dari haluan perahunya, membelah ombak yang menjulang tinggi menjadi dua.

 

Namun paus putih itu menerjang ke depan, mulutnya menganga lebar. Pusaran hitam pekat berputar di tenggorokannya. Seolah-olah ia ditakdirkan untuk melahap setiap jejak energi mental.

 

Bahkan air laut di sekitarnya pun ikut terseret ke dalam spiral tersebut.

 

Dustin mengetuk perahu dengan ujung kakinya dan melesat ke udara seperti seberkas cahaya. Sambil menghindari pusaran, dia melepaskan rentetan aura pedang yang menghujani paus itu.

 

Namun begitu mereka mengenai tubuhnya, cahaya putih itu melenyapkan mereka. Hanya bekas samar yang tersisa, seolah-olah serangan itu tidak lebih dari sekadar menggelitik.

 

“Energi mentalmu mungkin kuat, tapi masih mentah dan belum terpoles. Kau kurang kendali,” kata Dustin dengan tenang. Nada suaranya tidak menyisakan ruang untuk keraguan.

 

Begitu kata-katanya terucap, energi mentalnya tiba-tiba menyebar ke luar. Lautan meletus dengan pilar pedang cyan yang tak terhitung jumlahnya, menjulang seperti hutan dan mengunci paus putih itu di tempatnya. Aura pedang yang terpancar dari mereka begitu dahsyat sehingga air di sekitarnya mulai mendidih.

 

Thymaleon mendengus dingin. “Kurang kendali? Aku tidak membutuhkannya saat berurusan denganmu,” balasnya sambil membuat segel tangan.

 

Tubuh paus itu meledak menjadi cahaya putih yang menyilaukan dan mengembang beberapa kali lipat sebelum menabrak pilar-pilar pedang.

 

Suara dentuman dahsyat mengguncang alam pikiran. Ketika paus dan pilar-pilar bertabrakan, air laut menguap dalam sekejap. Retakan hitam terbuka di dasar laut, menyemburkan energi kacau yang merayap keluar seperti ular berbisa.

 

Dustin tetap tenang dan tidak terburu-buru. Dia mengayunkan pergelangan tangannya, dan pedang raksasa itu hancur menjadi serpihan aura pedang yang tak terhitung jumlahnya. Serpihan-serpihan itu berkerumun di tengah kekacauan seperti lebah dan melesat lurus menuju Thymaleon.

 

Kekejaman terpancar di mata Thymaleon. Kali ini, dia tidak menahan diri. Cahaya di sekelilingnya semakin pekat, dan seluruh laut bergetar.

 

Dari kedalaman, muncul pusaran air raksasa. Pusaran itu berputar dengan kekuatan yang menghancurkan, berputar semakin cepat hingga bahkan ruang angkasa itu sendiri mulai melengkung.

 

“Pergi ke neraka!” teriaknya dengan marah.

 

Tiba-tiba, pusaran mata laut itu bergerak mendekati Dustin. Di mana pun ia lewat, air laut benar-benar tersedot kering, hanya menyisakan kehampaan yang gelap gulita.

 

Dustin menarik napas dalam-dalam. Semua aura pedang di sekitarnya berkumpul di pedang panjangnya. Bilah pedang memancarkan cahaya cyan yang cemerlang dan berubah menjadi naga pedang cyan.

 

Saat naga pedang itu meraung, pola pada sisiknya terlihat jelas. Cakarnya setajam pisau saat ia menyerbu ke arah pusaran mata samudra.

 

Begitu pedang dan pusaran mata samudra bertabrakan, seluruh alam mental tampak berada di ambang kehancuran.

 

Air laut biru tua melonjak ke atas secara terbalik, membentuk dinding air setinggi ribuan meter. Retakan membelah lautan, dan pecahan-pecahan logam yang tak terhitung jumlahnya berhamburan seperti meteor.

 

Gelombang kejut yang mengerikan menyebar ke luar, dan perahu mental Dustin hancur seketika. Dia terhuyung mundur beberapa langkah, sedikit darah berwarna emas pucat merembes dari sudut mulutnya. Ini adalah kerusakan tingkat mental yang bahkan memengaruhi tubuh fisiknya di dunia nyata.

 

Ilusi paus putih Thymaleon juga menghilang lebih dari setengahnya. Ia melayang di udara, napasnya tidak teratur. Dadanya naik turun dengan hebat, dan matanya membelalak kaget.

 

Dia tidak menyangka pria biasa berjubah putih ini memiliki energi mental yang cukup kuat untuk menahan serangan penuh kekuatannya.

 

Kedua pria itu terlempar ke belakang oleh gelombang kejut, mendarat di ujung yang berlawanan dari lautan mental dan saling berhadapan di kejauhan.

 

Laut terus bergelombang hebat, arus mental yang kacau mengamuk di mana-mana. Namun, tak satu pun dari mereka bergerak. Mereka hanya saling menatap dingin, dan ketegangan di udara semakin mencekam setiap detiknya.

 

Bab Lengkap

An Understated Dominance ~ Bab 2667 An Understated Dominance ~ Bab 2667 Reviewed by Novel Terjemahan Indonesia on June 10, 2026 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.