An Understated Dominance ~ Bab 2669

 

Bab 2669

Dua pancaran cahaya menyilaukan meledak di tepi danau seperti matahari mini. Dunia menjadi redup, dan bahkan angin yang menderu pun tampak membeku.

 

 

Tubuh Thymaleon bergetar. Garis merah terang perlahan mengalir dari lubang hidung kirinya, menyebar di jubahnya seperti bunga darah yang menyeramkan.

 

Secara refleks ia mengangkat tangannya, lalu menyentuh hidungnya dan menatap darah yang menodai ujung jarinya. Matanya yang biasanya dingin seketika dipenuhi amarah.

 

 

Dia belum pernah mengalami penghinaan seperti itu. Dia tidak hanya gagal menekan lawannya dalam bentrokan energi mental mereka, tetapi dialah yang justru terluka.

 

“Pergi ke neraka!” Raungan Thymaleon menggelegar seperti guntur. Cahaya putih di sekelilingnya menyala lebih terang. Langit yang cerah tiba-tiba gelap saat awan bergolak berkumpul. Kilat ungu berkelebat di kegelapan seperti ular, berderak tajam.

 

Dia mengangkat satu tangan ke arah badai, telapak tangan mengarah ke awan yang bergolak. Energi spiritualnya yang tersisa melonjak dalam resonansi liar dengan guntur yang menggelegar di langit.

 

Kilat menyambar, masing-masing setebal batang pohon, turun dari awan dan berkumpul di telapak tangan Thymaleon seperti anak sungai yang bergabung menjadi sungai yang deras.

 

Di tengah dahsyatnya badai, sebuah tombak mulai terbentuk, seluruhnya terbuat dari kilat ungu. Panjangnya mencapai 30 kaki.

 

Ujungnya tajam seperti pisau dan berkilauan dengan cahaya yang merusak. Rune-rune yang padat dan rumit melilit di sepanjang batangnya, masing-masing dialiri arus listrik dan memancarkan tekanan yang mencekik.

 

Udara di sekitarnya berputar dan berubah bentuk karena panas. Air danau mendidih hebat, mengeluarkan uap putih yang mengepul.

 

 

Tanah di sekitar Thymaleon retak membentuk pola seperti jaring laba-laba, dan pecahan batu melayang di udara, tertarik ke atas oleh kekuatan guntur.

 

“Itu… Kekuatan untuk mengendalikan petir.”

 

Ekspresi para penonton langsung berubah. Menatap tombak itu, seperti amukan badai yang menjadi nyata, mereka membeku ketakutan.

 

Ketika tombak petir itu sepenuhnya mengeras, Thymaleon tiba-tiba menegang. Urat-urat di lengannya menonjol, dan dia melemparkan senjata itu ke arah Dustin, yang duduk di meja batu.

 

Tombak itu melesat menembus langit, merobek udara menjadi bekas luka hitam. Kabut putih di sepanjang jalurnya menguap seketika. Kilat-kilat kecil menyambar dari batang tombak, meledakkan kawah di tanah. Bahkan ruang di sekitarnya bergelombang seperti air, seolah-olah akan runtuh kapan saja.

 

Menghadapi serangan mengerikan ini, Dustin tidak mundur. Sebaliknya, niat bertempur yang ganas menyala di matanya.

 

Dia langsung berdiri. Pedangnya berdengung di tangannya saat aura pedang hijau meletus di sekelilingnya seperti gunung berapi, menghantam meja batu yang hancur ke segala arah.

 

“Waktu yang tepat!” teriaknya. Dia menggenggam pedangnya dengan kedua tangan dan mencurahkan seluruh energi mistiknya ke bilah pedang. Pola awan yang terukir di pedang itu menyala, berubah menjadi naga biru yang mengaum dan melilit baja, tangisannya menggema ke langit.

 

 

“Azure Dragon Breaker!” Dustin meraung sambil menjentikkan pergelangan tangannya.

 

Pedang yang membawa naga hijau itu melesat ke depan untuk berhadapan langsung dengan tombak petir. Ia menebas udara dengan kecepatan luar biasa, hanya meninggalkan bayangan. Naga itu membuka rahangnya yang besar, memperlihatkan taringnya yang tajam, siap menantang guntur itu sendiri.

 

Dustin menggerakkan pergelangan tangannya sedikit. Pedang itu, yang membawa naga hijau, melesat ke depan untuk berhadapan langsung dengan tombak petir. Pedang itu menebas udara dengan kecepatan luar biasa, hanya meninggalkan bayangan. Naga itu membuka rahangnya yang besar, memperlihatkan taringnya yang tajam, siap menantang guntur itu sendiri.

 

Saat mereka bertabrakan, waktu seolah membeku. Gelombang kejut energi tanpa suara menyebar ke luar, seketika meratakan tenda-tenda perkemahan di tepi danau. Pohon-pohon purba berusia ratusan tahun patah seperti tusuk gigi yang rapuh, serpihan-serpihan beterbangan ke segala arah.

 

Kemudian suara dentuman yang memekakkan telinga mengguncang udara.

 

Aura pedang hijau dan kilat ungu berbelit-belit hebat di langit. Mereka membentuk bola energi raksasa. Cahaya berkelebat terus-menerus di dalamnya, memancarkan kekuatan yang mampu mengakhiri dunia.

 

Para penonton yang menyaksikan kejadian itu menutup telinga mereka dengan erat, namun gelombang rasa sakit masih terasa di gendang telinga mereka.

 

 

Mereka menatap tak berdaya saat bola energi di udara terus membesar. Ruang di sekitarnya berputar semakin hebat setiap saat, dan bahkan sinar matahari pun tidak dapat menembusnya.

 

Tepat ketika bola itu hendak meledak, mata Dustin menajam. Energi spiritualnya melonjak, dan naga pedang hijau itu membesar beberapa kali lipat ukurannya. Ia menghantam dengan ganas ke ujung tombak petir.

 

Terdengar suara retakan tajam. Rune pada tombak petir mulai hancur berkeping-keping, dan petir ungu perlahan meredup.

 

Ekspresi Thymaleon berubah drastis. Dia mencoba memanggil kembali tombaknya tetapi mendapati aura pedang yang kuat mengalir kembali bersama senjata itu ke arahnya, membuat seluruh lengannya mati rasa.

 

Sebelum dia sempat bereaksi, Dustin telah menggunakan kekuatan pantulan aura pedang untuk berubah menjadi seberkas cahaya hijau, melesat menyusuri batang tombak petir.

 

Suara desing tajam pedangnya yang membelah udara membuat gendang telinga terasa sakit. Aura pedang di sekelilingnya membentuk kerucut tajam yang menembus langsung kekuatan petir yang belum sepenuhnya hilang.

 

“Tidak…” Pupil mata Thymaleon menyempit tajam, wajahnya dipenuhi keterkejutan. Dia mencoba menghindar tetapi mendapati tubuhnya terkunci erat oleh domain aura pedang. Dia tidak bisa bergerak sama sekali.

 

 

Yang bisa dia lakukan hanyalah menyaksikan Dustin menerjang ke arahnya seperti anak panah dari busur, pedang di tangan. Bilah pedang menembus dada Thymaleon dengan suara basah dan keluar dari punggungnya.

 

Aura pedang hijau mengalir melalui ujung pedang ke dalam tubuhnya, seketika menghancurkan jalur peredaran darah dan inti energi spiritualnya.

 

Tubuh Thymaleon menjadi kaku. Dia menatap luka pedang di dadanya. Darah terus mengalir dari luka itu, membasahi jubah putihnya.

 

Kemarahan dan kesombongan di matanya telah lama digantikan oleh teror. Dia membuka mulutnya seolah ingin berbicara, tetapi hanya desahan serak yang keluar.

 

Tubuhnya mulai gemetar hebat. Cahaya putih di sekelilingnya surut seperti air pasang. Cahaya berkedip-kedip di bawah kulitnya, seolah-olah sesuatu di dalam akan meledak.

 

Thymaleon meledak. Darah, daging, dan pecahan tulang berhamburan ke segala arah. Semuanya jatuh ke rumput di tepi danau dan ke dalam air, mewarnai seluruh area menjadi merah.

 

Cahaya putih yang tadinya melayang di udara lenyap sepenuhnya, hanya menyisakan bau darah yang pekat dan jejak energi spiritual yang samar.

 

 

Bola energi itu kehilangan penopangnya dan meledak secara bersamaan. Cahaya-cahaya kecil yang tak terhitung jumlahnya berhamburan seperti bintang jatuh, jatuh ke tanah sebagai percikan api yang menyala sebelum dengan cepat menghilang.

 

Keheningan akhirnya kembali menyelimuti tepi danau. Hanya desiran angin yang menerpa dedaunan dan suara air yang mengalir yang tersisa.

 

Dustin perlahan menyarungkan pedangnya. Darah menetes dari ujung bilah pedang, membentuk genangan kecil di tanah.

 

Bab Lengkap

An Understated Dominance ~ Bab 2669 An Understated Dominance ~ Bab 2669 Reviewed by Novel Terjemahan Indonesia on June 10, 2026 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.