Bab 805
Ketika Nindi melihat betapa cemasnya
pria itu, dia merasa ada yang aneh.
Berdasarkan hasil penyelidikan
sebelumnya, dia menyimpulkan bahwa Sammy adalah pria yang gemar berjudi dan
mata duitan.
Bagi pria seperti itu, uang adalah
segalanya.
Sedangkan Sania hanyalah alat baginya
untuk mengumpulkan kekayaan.
Namun, sekarang kenapa Sammy begitu
khawatir akan keselamatan Sania?
Nindi merasa ada yang tidak beres,
tapi tetap bersikap dingin di luar. "Keluargamu semuanya bersalah. Apa
kamu pikir aku akan melepaskan kalian begitu saja?"
"Kejadian waktu itu nggak ada
hubungannya dengan Sania."
"Heh, nggak ada hubungannya?
Tapi dia ikut menyalahgunakan dana perusahaan bersamamu, bahkan kalian ampir
saja membuat perusahaan keluarga Lesmana bangkrut. Apa kamu pikir itu bukan
salah dia?"
Nindi pun menatap Sammy. "Kalian
sekeluarga benar-benar nggak tahu balas budi. Dulu waktu kamu punya catatan
kriminal dan nggak bisa dapat kerja, orang tuaku yang dengan baik hati
menerimamu sebagai sopir agar kamu bisa cari uang untuk menghidupi anakmu, tapi
bagaimana balasanmu terhadap orang tuaku?"
Sammy menunduk, tak menjawab sepatah
kata pun.
Nindi naik pitam, "Bicara,
kenapa diam saja?"
"Memang waktu itu aku salah
terhadap keluargamu.
"Kalau memang sadar bersalah,
lakukan sesuatu untuk menebusnya. keluarga Morris yang menyuap kalian,
'kan?"
Nindi menatapnya tajam. "Aku mau
kau bersaksi kalau keluarga Morris menyewa pembunuh bayaran. Kalau kamu mau
lakukan itu, Sania akan aman."
"Ternyata kamu sudah menyelidiki
sampai ke keluarga Morris, ya?"
Sammy tampak terkejut, tapi langsung
menjawab, " Kamu bisa menyuruhku melakukan apa saja, tapi syaratnya adalah
lepaskan putriku."
Nindi tidak menyangka ini akan
semudah ini.
Namun, hatinya selalu merasa ada
sesuatu yang tidak beres.
Dia bertanya lagi, "Lalu
uangnya?"
"Nggak ada."
"Bagaimana mungkin nggak ada!
Apa menurutmu aku akan percaya omonganmu?"
Nindi memandang dengan curiga, jelas
tidak percaya.
Sammy terlihat pasrah. "Setelah
dapat uangnya, aku pergi judi, dan sialnya semua kalah. Kalau nggak, aku pasti
sudah kabur jauh-jauh. Mana mungkin aku tetap bertahan di sini menunggu kalian
datang? 11
Nindi merasa sangat kesal setelah
mendengarnya
Alasan ini memang masuk akal.
Namun, Nindi tetap merasa terlalu
mulus.
Apakah Sammy begitu menyayangi
putrinya?
Benarkah pemabuk dan tukang judi
seperti dia, bisa sebaik itu?
Nindi berbalik dan meninggalkan
ruangan. Dia menatap Cakra yang berdiri di depannya. "Aku selalu merasa
ada yang aneh dengan Sammy, tapi aku nggak tahu apa itu."
"Memang terlalu mulus."
Cakra juga mendengar percakapan Nindi
dengan Sammy tadi. Pria itu bahkan tidak mengajukan permintaan apa pun, hanya
mengatakan untuk tidak melibatkan Sania.
Nindi berkata dengan curiga,
"Kita lakukan tes DNA saja dulu untuk melihat apa benar dia ayah kandung
Sania atau bukan."
Bagaimanapun juga, dia sudah
menjalani operasi plastik, siapa yang tahu apakah itu benar dirinya.
Cakra Julian mengangguk.
"Baik."
Nindi merasa sedikit tidak yakin.
"Kalau begitu, apa kamu juga akan melepaskan Nyonya Belinda?"
Makin lama Belinda ditahan, ibu Cakra
akan makin marah.
"Oke, aku akan
mengaturnya."
Setelah Cakra selesai berbicara, dia
menatap Nindi. "
keluarga Morris memang mulai
mencurigaimu. Sopir yang mencarimu tadi juga orang suruhan keluarga
Morris."
Dia mengirim orang untuk menyelidiki
sopir taksi tadi dan langsung menemukan petunjuk.
Memang benar itu orang yang dikirim
oleh keluarga Morris.
Tujuannya juga jelas, ingin membawa
Nindi untuk dimintai keterangan, atau bahkan menjadikannya sandera.
Ketika Nindi tahu bahwa keluarga
Morris bertindak, dia juga memikirkan hal yang sama dengan Cakra.
Kalau keluarga Morris bisa menyewa
pembunuh bayaran bertahun-tahun lalu, menggunakan sopir untuk menculiknya juga
bukan hal yang mustahil.
No comments: