Bab 1490: Villa Gunung Lushmore
“Aku memang mudah kepanasan, mau
bagaimana lagi,” jawab Eugenia, mengira Connor sedang memujinya. Connor hanya
menatapnya pasrah, tidak tahu harus menanggapi apa.
“Connor, sepertinya takdir terus mempertemukan
kita,” ujar Jeanette sambil berlari menghampiri dengan wajah gembira.
“Kelihatannya begitu. Tapi setiap
kali bertemu kalian, pasti ada masalah,” Connor tertawa kecil.
Meskipun Honduria tidak terlalu
besar, tetap saja aneh bahwa mereka bisa bertemu lagi di tempat setinggi ini.
“Entah mengapa akhir-akhir ini kami
terus mengalami gangguan,” Jeanette mengeluh.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
Connor bertanya.
“Kami ke sini untuk menggambar
pemandangan, lalu berniat menginap di villa di puncak gunung. Tapi villa itu
tiba-tiba ditutup karena akan menerima tamu penting. Jadi kami hendak turun
gunung mencari tempat lain… lalu malah bertemu orang-orang tadi,” jelas
Jeanette.
“Oh begitu,” Connor mengangguk.
“Kalau kalian juga mau ke villa itu,
mending jangan. Lebih baik turun bersama kami. Ada restoran terkenal di bawah,
aku traktir sebagai ucapan terima kasih,” kata Eugenia.
“Lain kali saja. Orang-orang di villa
sedang menungguku. Kalau aku tidak datang, mereka malah kecewa,” jawab Connor
santai.
“Berhenti membual. Mana mungkin villa
ditutup hanya karena kamu,” Eugenia mendengus.
“Itu benar. Villa ditutup karena
menanti kedatangan Tuan McDonald. Lebih baik kalian turun,” kata Chieko tanpa
ekspresi.
“Kalau begitu, sampai jumpa,” ucap
Connor sambil melanjutkan langkah.
Jeanette menatap punggung mereka.
“Eugenia… apa mungkin Connor tidak bercanda? Apa benar villa itu menunggunya?”
“Mana mungkin. Villa itu milik
keluarga yang sangat berpengaruh. Bahkan ketua keluargaku tidak diperlakukan
begitu. Jangan percaya omongannya,” balas Eugenia sambil cemberut. Namun ia
sempat bergumam, “Padahal aku mau mentraktirnya…”
Jeanette masih terlihat ragu, lalu
mengikuti Eugenia turun gunung.
…
Sementara itu, Connor dan Chieko
terus menaiki jalur menuju Villa Gunung Lushmore. Chieko tampak semakin tegang.
Jasper Wilkins bukan orang biasa. Ia memegang jabatan penting di Rockefeller,
dan bila ia sudah mengetahui kedatangan Connor namun tetap tinggal di villa,
itu berarti ia telah mempersiapkan sesuatu.
Semakin dekat ke puncak, wisatawan
makin sedikit. Hingga akhirnya, tak ada orang sama sekali. Hanya suara burung
di kejauhan, membuat suasana terasa ganjil.
Chieko merapat ke belakang Connor. Ia
tahu bahwa keselamatannya sepenuhnya bergantung pada pria itu. Jika Connor
kalah atau terluka, ia pasti tidak selamat.
Namun ia tetap mengikuti Connor tanpa
ragu, karena hanya Connor satu-satunya harapannya untuk membalas dendam di masa
depan.
Tak lama kemudian, mereka tiba di
Villa Gunung Lushmore.
Biasanya tempat itu ramai oleh
wisatawan kaya. Namun kini suasananya sunyi dan dingin. Tidak ada satu pun tamu
terlihat. Kabut tebal menyelimuti area villa, membuat tempat itu tampak seperti
wilayah yang terisolasi.
“Jasper Wilkins sudah di sini, kan?”
Connor menatap Chieko dan bertanya pelan.
No comments: