Bab 806
Dia menatap Cakra. "Begitu
Nyonya Belinda kembali, hal seperti ini seharusnya nggak akan terjadi
lagi."
Bagaimanapun juga, saat itu keluarga
Morris akan sibuk menyelamatkan diri sendiri.
"Tapi kita tetap nggak boleh
lengah, keluarga Morris memang terkenal pendendam. Mereka cuma tahu menyakiti
orang lain, tapi nggak pernah bisa menerima perlakuan yang sama."
Cakra cukup mengenal anggota keluarga
Morris.
Nindi meliriknya penuh arti.
"Kamu paham sekali tentang keluarga Morris, ya?"
Tatapan pria itu sedikit berubah.
"Aku bukan buta dan bukan cuma aku yang berpikiran begitu tentang
mereka."
Nindi mengalihkan pandangan. Jadi
kemungkinan besar, keluarga Morris memang akan membalas dendam.
Entah mereka berhasil mendapatkan
bukti atau tidak, keluarga Lesmana pasti akan menjadi sasaran.
Bagaimanapun juga, keluarga Lesmana
adalah tersangka utama.
"Selama aku masih ada, kamu
nggak perlu khawatir tentang keluarga Morris," ujar Cakra.
"Aku nggak khawatir. Lagi pula,
begitu Nyonya Belinda kembali, keluarga Morris pasti sadar kalau keluarga
Lesmana sudah tahu soal kecelakaan mobil di masa lalu. Dengan sifat pendendam
mereka, mereka pasti akan menyerang keluarga Lesmana. Tapi jujur saja, aku
nggak terlalu peduli keluarga Lesmana bangkrut atau nggak."
Dulu, keluarga Morris juga pernah
menggunakan keluarga Lesmana untuk mengancamnya.
Itu tidak berpengaruh sama sekali,
dia bahkan sedikit ingin bertepuk tangan dan bersorak.
Sekarang ayah Sania telah ditangkap,
seharusnya keluarga Morris yang takut.
Nindi menatap Cakra. "Kalau
begitu aku balik ke kampus dulu, masih ada kelas."
"Aku akan mengantarmu ke kampus.
Aku akan menghubungimu jika ada perkembangan di sini."
Keduanya pergi bersama dengan mobil.
Sepanjang jalan, Nindi terus
berdiskusi dengan Cakra tentang kasus waktu itu. Mereka harus menemukan lebih
banyak bukti, agar di pengadilan nanti semuanya berjalan lancar.
Mobil berhenti di depan kampus.
Nindi menoleh pada Cakra. "Aku
pergi dulu. Kamu juga urus urusanmu. Aku bisa tangani sendiri yang ini."
Cakra tersenyum tipis. "Ini juga
urusanku."
Nada suaranya tenang, tapi membuat
wajah Nindi sedikit memerah tanpa alasan.
Dia batuk kecil, lalu berbalik
membuka pintu mobil dan pergi.
Saat berjalan masuk ke kampus, Nindi
merasa seperti masih ada tatapan yang mengikutinya.
Dia tidak dapat menahan diri untuk
tidak menoleh ke belakang. Mobil itu masih terparkir di pinggir jalan. Warna
hitam dengan garis-garis yang dingin dan kaku, sangat mencerminkan pria itu.
Namun, entah kenapa pria itu begitu
baik padanya, hampir selalu mengabulkan semua permintaannya.
Hati Nindi menghangat. Setelah semua
yang terjadi, masih ada orang yang selalu ada di sisinya.
Jika Cakra saja tidak takut, kenapa
dia harus takut?
Setelah membulatkan tekadnya, Nindi
langsung menuju asrama.
Setelah kembali ke asrama, dia
mendapati seseorang mirip pelayan berdiri di luar kamar.
Apa yang terjadi?
Nindi mendorong pintu dan masuk ke
dalam, dan benar saja, memang ada tamu yang datang. Seorang sosialita muda
duduk di depan Yanisha.
Dia langsung menebak, mungkinkah ini
anggota keluarga Yanisha?
Namun, bukankah kedua orang tua
Yanisha sudah meninggal?
"Nindi, kamu sudah pulang."
Galuh yang pertama kali melihatnya
buru-buru berkata, "Keluarga Yanisha datang."
Yanisha berdiri, menatap Nindi sambil
berkata, " Kenalin, ini Tante Kirana. Dia baru pulang dari luar
negeri."
Tante Kirana?
Mungkinkah ibu tiri muda Yanisha?
Wanita kaya itu berdiri dan menatap
Nindi, dengan senyum lembut di wajahnya. "Halo, aku sering mendengar
tentangmu dari Yanisha."
Raut wajah Nindi berubah drastis saat
melihat wanita kaya itu.
Wanita ini agak mirip dengan Sania.
No comments: