Bab 1481: Flying Sword!
“Aku tidak punya dendam pribadi
denganmu. Selama kau tidak ikut campur, aku bisa melepaskanmu,” kata Connor
pada Jordan Lancaster tanpa ekspresi.
Mendengar itu, Jordan tampak terkejut
sesaat. Lalu ia berkata pelan, “Aku harus turun tangan hari ini. Ini masalah
kesetiaan.”
“Kalau begitu, jangan salahkan aku
atas apa yang akan terjadi.”
Setelah mengatakan itu, Connor
langsung menerjang Jordan lagi. Jordan mengernyit, lalu mengangkat pedangnya dan
berteriak rendah, “Pedang Terbang Langit!”
Seketika, aura yang sangat kuat
meledak keluar dari tubuh Jordan, berkumpul di sepanjang pedangnya. Pedang itu
terlepas dan melesat seperti rudal pelacak, langsung mengarah ke Connor.
Keluarga Dullahan terbelalak, wajah
mereka penuh keterkejutan. Pemandangan seperti ini terasa seperti adegan dari
film atau drama.
“Mr. Lancaster memang luar biasa!”
“Benar, kemampuannya mengerikan…”
“Seperti yang diharapkan dari Mr.
Lancaster…”
Semua orang mulai berbisik kagum.
Namun wajah Jordan justru tampak
semakin gelap. Serangan ini adalah kartu as-nya, dan ia sudah menggunakan
hampir semua kekuatan dalam tubuhnya. Bila serangan ini gagal membunuh Connor,
ia akan berada dalam bahaya besar.
Pedang itu melesat ke arah Connor
dengan kecepatan kilat. Connor segera melepaskan aura dari tubuhnya dan
menyelimutkannya sebagai pelindung agar tidak terluka terlalu parah. Ia berlari
mengitari halaman, mencoba menghindari pedang itu. Namun pedang itu seolah
memiliki radar — ke mana pun Connor pergi, pedang itu terus mengunci posisinya.
Kecepatan pedang terbang itu juga
jauh melebihi kecepatan Connor. Dalam kurang dari setengah menit, pedang itu
sudah menggores tubuh Connor beberapa kali. Darah mulai membasahi pakaiannya.
Chieko menatap adegan itu dengan
kedua tangan meremas ujung bajunya. Ia sangat tegang.
“Kalau terus begini, Mr. Lancaster
pasti bisa mencincang anak itu!”
“Benar! Lihat saja apakah dia masih
bisa sombong!”
Keluarga Dullahan berseru kegirangan.
Namun Jordan tetap mengerutkan
kening. Alasannya sederhana: meski Connor tampak terdesak, kerusakan yang
dihasilkan pedang itu sangat kecil — hanya luka-luka dangkal. Sementara itu,
pedang terbang terus menguras tenaga dalam Jordan. Jika ia tidak bisa
memberikan pukulan fatal sebelum kekuatannya habis, justru ia sendiri yang
berada dalam bahaya.
Dan benar saja, Connor mulai
menyadari bahwa Jordan tidak mampu mempertahankan serangan itu lama. Kecepatan
pedang terbang itu sudah tidak secepat sebelumnya. Sambil menghindar, Connor
mulai mendekati Jordan.
Begitu jaraknya cukup dekat, Connor
tiba-tiba menerjang. Jordan kaget dan buru-buru meningkatkan kecepatan pedang
terbangnya. Pedang itu menyerbu ke dada Connor. Namun Connor menggeser tubuhnya
sedikit dan menghindar, lalu berteriak rendah:
“Pukulan Biduk Tujuh Bintang — Auman
Naga!”
Ledakan keras terdengar. Tinju Connor
menghantam dada Jordan dengan kekuatan luar biasa.
“Bagaimana mungkin?!” Jordan
terhuyung ke belakang, terkejut sekaligus ketakutan. Ia bisa merasakan kekuatan
mengerikan mengalir masuk ke tubuhnya.
Ia memuntahkan darah segar.
Keluarga Dullahan terpaku ketakutan.
Hanya beberapa detik lalu Jordan masih unggul — siapa yang mengira keadaan akan
berbalik secepat ini?
“Pukulan Biduk Tujuh Bintang — Auman
Harimau!”
Connor kembali mengaum, lalu
melepaskan pukulan lain. Tinju itu menghantam dada Jordan dan membuat tubuhnya
terpental keras hingga menabrak dinding.
Semua orang menatap Jordan dengan tak
percaya. Meski masih bernapas, ia tidak lagi mampu bergerak. Ia terbaring di
tanah dengan mata membelalak, wajahnya dipenuhi rasa tidak rela dan amarah. Ia
tidak pernah menyangka akan kalah dari Connor.
Keluarga Dullahan terpaku seperti
patung. Ketakutan membuat mereka tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
“Tuan McDonald… menang?” Chieko
menatap Connor dengan mata membesar, hatinya penuh keterkejutan. Selama ini,
Jordan baginya adalah sosok yang tak terkalahkan. Namun kenyataannya berbalik
total.
Connor berjalan mendekati Jordan dan
bertanya dengan suara tenang, “Masih mau lanjut?”
“Aku… aku mengaku kalah…” Jordan
memaksakan kata-kata itu dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Ia berharap
Connor mau memberinya jalan untuk hidup.
Mendengar pengakuan itu, Connor hanya
tersenyum tipis dan tidak menyerangnya lagi.
Jordan benar-benar mengaku kalah.
Seorang grandmaster bela diri kuno yang sangat terkenal di Honduria — mengaku
kalah begitu saja.
Keluarga Dullahan tidak tahu
bagaimana menggambarkan perasaan mereka. Barusan mereka merasa berada di surga.
Sekarang rasanya seperti jatuh ke dasar neraka.
“Connor… Dia terlalu mengerikan,”
ujar Gerald dengan suara bergetar.
Jordan tadi adalah satu-satunya
harapan keluarga Dullahan. Tanpa Jordan, mereka tidak punya cara untuk melawan.
“Apa yang harus kita lakukan
sekarang?”
“Apakah masih ada jalan keluar?”
Panik langsung melanda seluruh
keluarga Dullahan. Mereka benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan.
No comments: