Bab 1480: A Pyrrhic Victory At Best!
“Orang yang kau cari tidak ada di
sini. Berhentilah mengganggu kami!” teriak Gerald dengan panik.
“Sepertinya kau memang tidak akan
menangis sebelum melihat peti mati,” ejek Connor sambil melangkah mendekatinya.
Jordan berdiri di depannya dan
berkata dengan suara rendah, “Tuan McDonald, kalau Anda melangkah satu langkah
lagi, aku tidak akan menahan diri.”
Connor menatapnya tanpa ekspresi dan
berkata datar, “Lalu? Itu ancaman?”
Raut wajah Jordan berubah sedikit. Ia
kemudian mencabut pedang yang dibawanya. Connor pernah melihat banyak ahli bela
diri, tetapi tidak banyak yang menggunakan senjata di zaman modern. Namun
Jordan berbeda — ia adalah petarung terkenal di Honduria, sangat dihormati,
sehingga tidak ada yang heran melihatnya membawa pedang.
Pedang itu jelas bukan pedang biasa.
Begitu terhunus, Connor bisa merasakan hawa dingin mengalir keluar darinya.
Bilah pedang putih itu memancarkan energi dingin, dan sudah banyak orang di
Honduria yang tewas olehnya.
“Mr. Lancaster, bunuh saja anak ini
hari ini! Biar dia tahu rasa!” teriak seseorang.
“Benar! Anak ini sama sekali tidak
menghargai Honduria!” seru anggota keluarga Dullahan lainnya saat melihat
Jordan menghunus pedang.
Pada saat itu, kilatan niat membunuh
tampak di mata Jordan. Ia bisa merasakan bahwa Connor tidak pernah
menganggapnya serius sejak awal.
Chieko kembali tegang saat melihat
Jordan bersiap menyerang. Meskipun kekuatan Connor menakutkan, Jordan bukan
orang biasa. Ia tidak bisa menebak siapa yang akan menang. Ia juga tahu banyak
anggota keluarga Dullahan yang menginginkan dirinya. Jika Connor kalah, ia akan
berada dalam bahaya. Karena itu, ia hanya bisa berdoa agar Connor tidak kalah.
Jordan menatap Connor tanpa ekspresi.
“Majulah,” kata Connor, menantang.
Jordan tidak membuang waktu. Ia
menggenggam pedangnya dan melesat ke arah Connor, menebas ke arah kepala.
Kecepatan serangannya sangat mengejutkan. Di mata keluarga Dullahan, Jordan
sudah berada tepat di depan Connor dalam sekejap. Jika lawannya orang biasa,
mereka pasti akan mati sebelum sempat bereaksi.
Namun Connor bukan orang biasa. Ia
bisa mengalahkan begitu banyak pengawal dengan mudah, menunjukkan bahwa ia
memiliki kemampuan.
Connor menghindar dari tebasan itu,
lalu berbalik dan meninju dada Jordan. Jordan menghindar dengan mudah.
Pedangnya beradu dengan tinju Connor. Meskipun Jordan belum melukainya, semua
orang bisa melihat bahwa Jordan memegang kendali sementara Connor tampak
tertekan.
Tiba-tiba, serangan Jordan merobek
pakaian Connor dan meninggalkan luka kecil yang mengeluarkan darah. Kecepatan
Connor memang mengesankan, tetapi itu hanya unggul dibandingkan para pengawal.
Menghadapi Jordan, kecepatan itu sudah bukan kelebihan.
“Tuan McDonald!” Chieko semakin panik
melihat Connor terluka. Sementara itu, keluarga Dullahan tampak sangat gembira.
Mereka yakin Jordan pasti akan menang. Ada yang bahkan sudah membayangkan bahwa
setelah Jordan mengalahkan Connor, keluarga Dullahan bisa merebut Haber
Corporation — perusahaan bernilai puluhan miliar.
Lebih buruk lagi, para pemuda
keluarga Dullahan yang menginginkan Chieko mulai berfantasi tentang bagaimana
mereka akan memperlakukannya jika Connor kalah. Selama bertahun-tahun mereka
menginginkan wanita itu, tetapi selalu terhalang berbagai faktor. Kini
situasinya berbeda, dan mereka makin berhasrat.
Sementara mereka bersukacita, wajah
Jordan justru tampak muram. Ia menyadari bahwa Connor belum menunjukkan
kekuatan penuhnya. Walaupun secara kasat mata ia unggul, keunggulan itu sangat
tipis. Luka kecil kurang dari lima sentimeter tidak menunjukkan apa pun.
Di saat itu juga, Jordan merasakan
bahaya besar. Jika bukan karena perintah Yaakov Ward, ia mungkin memilih
mundur, karena pertempuran ini terlalu berisiko. Sekalipun menang, itu pasti
kemenangan yang membawa kerugian besar.
Connor tiba-tiba melesat ke arah
Jordan dan berteriak rendah, “Pukulan Biduk Tujuh Bintang, Jeritan Bangau!”
Ekspresi Jordan berubah tegang. Ia
bisa merasakan kekuatan besar dalam serangan itu. Ia hanya punya dua pilihan:
menghindar atau menahannya langsung. Jika ia menahan serangan itu dan berhasil,
ia bisa mendapat peluang balik menyerang. Jika gagal, akibatnya sangat
berbahaya.
Setelah berpikir sekejap, Jordan
memilih menghindar. Ia langsung mundur lima meter dan berhasil mengelak tepat
waktu.
“Aku tidak menyangka kekuatanmu
sebesar ini. Jarang sekali ada anak muda yang mencapai tingkat seperti ini,”
komentar Jordan.
No comments: