Bab 1489: Pertemuan Tak Terduga
dengan Eugenia Bander
Setelah pemuda itu pergi, Chieko
tampak cemas. Ia berbisik pada Connor, “Pak McDonald, Jasper Wilkins mungkin
sudah tahu kita ada di sini. Apa kita harus mengubah rencana?”
“Tidak perlu,” jawab Connor tenang.
“Kalau dia sudah tahu dan bahkan mengikuti kita, artinya dia sudah bersiap.
Kita tetap naik dan lihat situasinya.”
Chieko tak menyangka Connor akan
tetap setenang itu. Ia menarik napas, lalu mengikuti langkahnya.
“Banyak juga wisatawan di sini,” ujar
Connor saat mereka mencapai area atas gunung.
“Tentu saja. Katanya kuil-kuil di
Gunung Lushmore bisa membawa keberuntungan, jadi banyak orang datang untuk
berdoa,” jelas Chieko.
Connor mengangguk dan melanjutkan
perjalanan.
Mereka belum berjalan lebih dari
sepuluh menit ketika terdengar teriakan seorang perempuan di depan.
“Aku sudah bilang aku tidak mau pergi
ke bar bersamamu! Berhenti menggangguku!”
Connor mengernyit. Suara itu
terdengar familiar.
“Pak McDonald, sepertinya dua gadis
yang kita temui di bus kemarin,” kata Chieko.
“Oh, mereka rupanya…” Connor
tersenyum tipis. “Tak kusangka bertemu lagi.”
“Aku rasa hanya kebetulan,” gumam
Chieko tanpa antusias.
Teriakan itu semakin keras.
“Apa-apaan kalian ini? Lepaskan aku!
Kalau tidak, aku lapor polisi!”
“Percuma,” jawab seorang laki-laki
sambil tertawa. “Polisi tidak akan sempat datang.”
Connor menghela napas. “Kalau sudah
begini, kita harus lihat apa yang terjadi. Sepertinya mereka dalam masalah.”
Ia melangkah, dan Chieko akhirnya
ikut meski agak enggan.
Ketika mereka berhasil menembus
kerumunan, tampak Jeanette Sacks dan Eugenia Bander dikelilingi empat hingga
lima pemuda. Salah satu dari mereka memegang lengan Eugenia, sementara Jeanette
terlihat ketakutan dan berusaha menarik temannya menjauh.
Eugenia berusaha melepaskan diri,
namun kalah kuat. Banyak orang menonton, tetapi tak seorang pun membantu karena
pemuda itu berpura-pura menjadi pacarnya sehingga tampak seperti pertengkaran
sepasang kekasih.
Jika Eugenia tidak bertemu seseorang
yang mengenalnya, situasinya bisa berbahaya.
Connor tidak suka ikut campur urusan
orang, namun ia tidak bisa membiarkan kejadian itu berlangsung.
Ia maju dan berseru datar, “Siapa
kalian? Lepaskan temanku.”
Eugenia dan Jeanette menatapnya,
kaget melihat Connor di sana.
Pemuda yang menahan Eugenia menoleh
dengan kesal. “Siapa kau? Ini masalahku dengan pacarku. Pergi!”
“Pacarmu?” Connor menatapnya.
“Benarkah begitu? Apakah dia pacarmu?” tanyanya pada Eugenia.
“Tidak! Aku bahkan tidak kenal dia.
Dia cuma orang iseng,” tegas Eugenia cepat.
“Sayang, jangan marah. Aku salah…”
kata pemuda itu mencoba meyakinkan orang sekitar.
“Aku tidak kenal kamu! Pergi!” seru
Eugenia.
Connor memandang pemuda itu dari atas
ke bawah. “Kalau begitu, kau pasti tahu namanya, bukan? Sebutkan.”
Pemuda itu terdiam, lalu wajahnya
berubah marah. “Kuperingatkan, jangan ikut campur atau kau akan menyesal.”
“Lepaskan temanku dan pergi,” ujar
Connor tegas.
Salah satu pemuda lain maju sambil
memaki, namun Connor menendangnya dengan cepat. Pemuda itu terjatuh dan
mengerang kesakitan.
“Aku bilang pergi. Susah dimengerti?”
kata Connor datar.
Para pemuda itu terdiam, saling
pandang, lalu buru-buru mengangkat temannya yang jatuh dan kabur. Kerumunan
yang menonton pun bubar.
Eugenia mendekati Connor dan berkata
pelan, “Terima kasih. Kalau kamu tidak datang, aku benar-benar bisa dibawa
pergi.”
“Kalian harus lebih hati-hati.
Berpakaian menarik seperti ini bisa membuat kalian jadi sasaran,” ujar Connor
singkat sambil melirik payudara Eugenia yang besar.
No comments: