Bab 1474: Menyerah Tanpa Perlawanan
Chieko tampak sedikit gugup ketika
melihat pemuda itu. Ia berseru kaget, “Itu Ivan Dullahan!” Connor menoleh pada
Chieko dan bertanya, “Kau kenal orang itu?” Chieko menjawab, “Dia adalah putra
dari paman ketigaku, Ivan Dullahan. Sepertinya dia datang untuk mencari kita
berdua.”
“Sepertinya berita tentang kedatangan
kita ke Honduria sudah bocor…” Connor tetap makan dengan tenang. Ekspresinya
sama sekali tidak menunjukkan kepanikan.
“Mr. McDonald, empat orang di
belakang Ivan adalah para bodyguard keluarga Dullahan. Mereka semua juga
petarung. Anda harus hati-hati!” bisik Chieko. Meskipun ia tahu keluarga
Dullahan sudah menemukan mereka, Connor tetap terlihat sangat tenang, seolah
keberadaan mereka tidak berarti apa-apa.
Saat itu, Chieko benar-benar tegang.
Kedatangannya bersama Connor sudah cukup membuktikan bahwa ia mengkhianati
keluarga Dullahan. Jika rencana mereka gagal, seluruh usaha dan kekuatannya
selama bertahun-tahun akan runtuh.
Ivan mendekat sambil tersenyum dan
berkata, “Chieko, kenapa tidak bilang kalau kau sudah pulang? Aku bisa saja
menjemputmu!” Pandangannya yang mesum terus menelusuri tubuh Chieko. Meski
masih satu keluarga, Ivan selalu menginginkan Chieko. Dahulu ia tak berani
bertindak karena kepala keluarga berencana menyerahkan Chieko kepada Yaakov
Ward. Namun kini keluarga sudah tahu Chieko berkhianat, sehingga ia merasa bisa
melakukan apa pun setelah menangkap Connor.
“Ivan, apa yang kau lakukan di sini?”
tanya Chieko datar.
Ivan menjawab, “Kau kan tahu.
Berdasarkan informasi yang kami dapat, kau bekerja sama dengan orang luar untuk
menjatuhkan keluarga Dullahan. Kepala keluarga memerintahkan agar aku
menangkapmu. Urusan bagaimana kau akan dihukum, itu bukan tugasku.” Ia berhenti
sejenak, lalu menambahkan, “Chieko, selama ini aku tidak berani menyentuhmu
karena kepala keluarga melindungimu. Tapi sekarang berbeda. Kau pengkhianat.
Jadi lebih baik menyerahlah.”
“Ivan, kalau kau berani menyentuhku hari
ini—” “Kita lihat saja!” potong Ivan. Ia menoleh pada para bodyguard dan
berteriak, “Apa yang kalian tunggu? Tangkap mereka berdua!”
Empat bodyguard itu langsung
menerjang Connor dan Chieko.
Ekspresi Connor justru tampak aneh.
Ia berdiri dan berkata dingin, “Kalian pikir bisa menangkapku? Konyol.”
Salah satu bodyguard berteriak, “Anak
kecil, jangan banyak bicara!” lalu mencoba mencengkeram bahu Connor.
“Bang!” Connor menamparnya keras
hingga tubuh besar itu terpental dan menghantam meja hingga meja tersebut
hancur berkeping-keping. Pelanggan di restoran langsung berteriak panik.
Connor melihat bodyguard yang ia buat
terbang hanya dengan satu tamparan dan tampak sedikit terkejut. Ia tidak
menyangka kekuatannya meningkat begitu drastis setelah mempelajari teknik
sirkulasi. Lawannya tadi bukan orang biasa—ia seorang petarung. Namun Connor
bahkan belum mengeluarkan seluruh kekuatannya.
“Ternyata orang tua itu benar-benar
hebat. Teknik sirkulasinya sangat luar biasa…” pikir Connor.
Wajah Ivan mulai pucat. Ia berteriak
panik, “Kalian bertiga, cepat habisi dia!”
Tiga bodyguard lainnya melompat maju.
Namun bagi Connor, mereka sama lemahnya seperti semut. Dalam waktu kurang dari
setengah menit, ketiganya tersungkur tak berdaya—semua dikalahkan dalam satu pukulan.
Chieko sudah pernah melihat kemampuan
Connor sebelumnya, tapi ia tetap terkejut dengan kekuatan barunya. Menghadapi
empat petarung sekaligus, mereka bahkan tidak punya waktu untuk bereaksi
sebelum dikalahkan.
Ivan berdiri terpaku, ketakutan.
Beberapa detik lalu ia masih berkhayal akan mempermalukan Chieko setelah
menangkap Connor, tetapi sekarang khayalan itu hancur seketika.
“Siapa… siapa sebenarnya orang ini?
Bagaimana bisa dia sekuat itu?” gumam Ivan gemetar.
Setelah mengetahui kekuatan sejati
Connor, rasa cemas Chieko langsung hilang. Ia menyilangkan tangan dan berkata
dingin, “Ivan, bukankah tadi kau ingin menangkapku? Kenapa sekarang diam saja?”
“Chieko… seluruh Honduria sedang
mencari kalian berdua. Kalian tidak akan bisa keluar dari sini. Lebih baik
menyerah tanpa perlawanan…” Ivan berteriak sambil gemetar ketakutan.
No comments: