Bab 810
Setelah memikirkan hal ini, Nindi
segera menelepon Nando. "Aku ada yang ingin dibicarakan."
"Nindi, apa yang mau kamu
bicarakan?"
Nando terdengar begitu terkejut. Dia
tidak menyangka Nindi akan meneleponnya.
Nindi menurunkan suaranya,
"Jangan sampai Sania kabur, keluarga Morris sangat ingin menjadikannya
sandera"
"Aku tahu, tapi bukankah ayah
Sania sudah mengatakan sesuatu?"
"Ayah Sania sudah berjanji untuk
menyerahkan diri, tapi demi keamanan, tetap awasi Sania dengan ketat. Kalau dia
jatuh ke tangan keluarga Morris, menurutmu apa dia akan berpihak pada keluarga
Lesmana?"
Nando juga mengerti Sania, wanita itu
memang bermuka dua.
"Aku tahu, akan kukirim orang
untuk mengawasinya," balasnya.
"Bagus kalau begitu. Sebaiknya
kamu jelaskan masalah ini pada Kak Witan, supaya dia nggak tertipu oleh Sania
dan akhirnya melepaskan sandera yang begitu bagus."
"Tenang saja ada aku di sini.
Aku pasti nggak akan membiarkan Sania kabur dari kediaman keluarga
Lesmana."
Setelah memberikan jaminan, Nando
bertanya lagi. " Lalu, kapan kamu berencana menyerahkannya ke kantor
polisi?"
"Nanti kalau waktunya sudah
tepat."
Setelah selesai bicara, Nindi
langsung menutup telepon. Dia tidak berniat menjelaskan lebih banyak pada
orang-orang keluarga Lesmana.
Sepertinya keluarga Morris akan
segera bertindak.
Nindi kembali ke kelas. Sementara
itu, kabar soal Belinda yang diculik sudah tersebar luas di internet, bahkan
diceritakan dengan detail yang meyakinkan.
Ada juga yang membocorkan bahwa
Belinda difoto tidak senonoh oleh penculik untuk memeras keluarga Morris.
Bagaimanapun, Sofia adalah wanita
sosialita nomor satu di Yunaria, kejadian besar yang menimpa ibunya tentu saja
menarik banyak perhatian.
Nindi sedikit terkejut, siapa yang
menyebarkan kabar ini hingga tersebar luas?
Dia mengirim pesan kepada Yanisha, ingin
bertanya siapa pelakunya.
Tak lama kemudian Yanisha membalas,
"Nggak tahu, keluarga Morris sekarang panik banget. Mereka terus mencari
Tante Martha buat menurunkan popularitas berita ini."
Nindi tanpa sadar memikirkan
seseorang.
Mungkinkah ini perbuatan Cakra?
Entah kenapa hati Nindi merasa
sedikit senang?
Bagaimanapun juga, melihat musuh
dalam kondisi yang begitu menyedihkan, cukup menyenangkan.
Bukankah Belinda biasanya dikenal
memiliki banyak koneksi di kalangan keluarga kaya?
Sekarang setelah dia kehilangan muka,
bagaimana Belinda, si perempuan licik kelas kakap, bisa bertahan di kalangan
ini?
Setelah kelas selesai, Nindi langsung
pergi ke markas tim E-sport.
Selama ini dia sibuk menyelidiki
masalah ayah Sania, jadi dia tidak punya waktu untuk mengurus tim, dan dia juga
tidak ikut turnamen kampus.
Nindi masuk dan melihat wakil kapten
Yudha sedang berlatih bersama anggota tim lainnya. Dia berdiri di samping dan
menonton sebentar, menyadari bahwa kemajuan anggota tim selama ini sangat
besar.
Ketika Yudha mendongak dan
melihatnya, dia berdiri dengan sedikit terkejut. "Kamu datang?"
"Kebetulan aku punya waktu hari
ini, jadi aku mampir. Kudengar kampus belakangan ini menang terus di turnamen,
malam ini finalnya."
"Iya, tadinya aku mau tanya apa
kamu punya waktu untuk ikut, tapi teman sekamarmu bilang kamu sedang sibuk
belakangan ini, mungkin kamu nggak akan punya waktu."
"Malam ini aku ada waktu, tapi
sudah lama aku nggak berlatih dengan kalian. Jadi, aku akan menyemangati dari
samping saja."
Nindi tadi melihat latihan mereka
sangat kompak, lebih baik dia tidak ikut.
"Kelihatannya suasana hatimu
sedang bagus. Sepertinya urusan yang membuatmu sibuk sudah selesai ya?"
"Benar, suasana hatiku sedang
bagus."
Nindi berdiskusi dengan semua orang
tentang final malam ini dan juga mengajukan beberapa pertanyaan taktis.
Pertandingan malam itu diadakan di
stadion.
Nindi berangkat ke lokasi
pertandingan bersama rekan satu timnya. Dia mengenakan seragam merah dan muncul
di lokasi pertandingan dengan rapi.
Saat menunggu giliran, Nindi menerima
telepon dari Sofia.
Dia menatap layarnya dan menjawab
dengan tenang, "Nona Sofia, ada apa?"
"Nindi, keluargamu benar-benar
berani. Berani-beraninya kalian menculik ibuku! Kali ini keluarga Morris pasti
nggak akan melepaskanmu begitu saja.
"Nona Sofia, kalau bicara itu
harus ada buktinya. Kamu bilang aku menculik ibumu? Lucu sekali, kenapa aku
harus melakukan itu?"
Sofia mengertakkan giginya.
"Jangan pura-pura nggak tahu."
"Apa maksudmu aku pura-pura
nggak tahu? Coba katakan."
Nindi juga tidak akan meninggalkan
celah bagi pihak lain dalam catatan panggilan, Sofia yang begitu berhati-hati,
tentu saja tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Sofia menarik napas dalam-dalam.
"Nindi, kamu pasti sedang berada di lokasi pertandingan saat ini. Ini
adalah pertama kalinya Tim E-Sport kamu mengikuti liga publik. Kalau hari ini
kalian nggak bisa bertanding setelah berusaha keras begitu lama, maka semua
usaha anggota timmu akan sia-sia."
"Kamu mengancamku, ya."
"Aku hanya ingin berdiskusi
baik-baik denganmu, kalau kamu sekarang patuh ikut dengan orang-orangku, maka
aku akan menjamin tim E-Sport kamu akan mendapat juara pertama. Saat tim
nasional memilih bakat dari kampus mereka pasti akan mempertimbangkan hasil liga."
Setelah mendengarnya, Nindi Lesmana
tersenyum sinis. "Maaf, aku nggak menerima ancaman."
"Baiklah Nindi. Sebaikanya kamu
nggak menyesal."
Setelah Sofia menutup telepon,
wajahnya sangat muram. "Ayo bertindak, biarkan Nindi si jalang itu
merasakan sedikit penderitaan."
"Kak, kamu ke mana saja? Ibu
depresi berat dan terus meronta-ronta mau bunuh diri. Nggak ada yang bisa
menenangkannya."
Serena dengan marah menghampirinya.
"Kamu barusan menelepon siapa? Dan kenapa ibu bilang orang keluarga
Lesmana yang menculiknya? Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?"
"Serena, jaga ibu baik-baik, aku
pasti akan membalaskan dendam ibu, pasti akan membuat semua orang keluarga
Lesmana mati tanpa dikubur."
Sofia keluar rumah sakit dengan
ekspresi dingin dan berkata pada orang di sampingnya, "Kumpulkan semua
orang ke stadion. Tutup semua pintu masuk dan juga keluar."
Apa yang keluarga Lesmana lakukan
pada ibunya, dia harus membalasnya seratus kali lipat kepada keluarga Lesmana.
Mari kita mulai dari Nindi Lesmana.
No comments: