Bab 1456: Chieko
Setelah kembali ke rumah, Connor
tidur sampai pukul empat sore. Saat ia bangun, ia mendapati bahwa Rachel sudah
pulang. Ia sedang duduk di sofa menonton televisi.
“Kamu sudah pulang?” Connor
meregangkan badan dan keluar dari kamar, bertanya pelan pada Rachel.
“Iya…” Rachel mengangguk ringan. Lalu
ia menoleh dan bertanya datar, “Kenapa kamu kembali ke Porthampton beberapa
hari ini?”
“Lalu untuk apa lagi? Aku cuma balik
untuk menghabiskan waktu bersama tunanganku beberapa hari. Lalu aku ikut
perayaan ulang tahun gabungan tiga universitas di Porthampton dan memainkan
satu lagu piano di sana…” Connor berjalan ke kulkas mencari makanan.
Namun kulkas kosong.
“Tidak ada apa pun untuk dimakan?”
tanyanya, agak jengkel.
“Sepertinya tidak ada,” jawab Rachel
santai.
“Lalu camilan-camilan yang biasa kamu
makan?” tanya Connor lagi.
“Sudah aku habiskan. Mau pergi
membeli lagi untukku sekarang?”
Ekspresi Connor kelihatan semakin
kesal. Ia mendesah kecil.
“Aku mau keluar makan. Kamu mau
ikut?”
“Aku tidak. Aku sedang diet,” Rachel
menggeleng.
“Kalau begitu aku pergi sendiri…”
Connor keluar rumah.
Setelah keluar dari komplek, ia
berniat menelpon Justin dan Brooks, tapi mereka masih kuliah. Jadi ia makan
sendiri di sebuah warung mi.
Warung itu tak terlalu ramai, jadi
Connor duduk sembarangan. Pelayan datang membawa menu.
“Mau pesan apa?”
Connor melihat menu sekilas.
“Semangkuk mi daging sapi saja.”
“Baik, tunggu sebentar.”
Connor lalu mengecek ponselnya.
Banyak panggilan dan pesan tidak penting, jadi ia menaruh ponselnya. Beberapa
menit kemudian pelayan kembali membawa mi panas mengepul.
“Mi-nya sudah siap.”
“Terima kasih,” kata Connor sambil
tersenyum kecil. Ia mulai makan.
Meskipun sekarang kaya raya,
kebiasaan hidupnya masih sama. Ia tetap suka makanan yang dulu ia sukai, dan
tetap tidak suka makanan yang dulu tidak ia sukai. Ia sering makan di warung mi
ini karena mi dagingnya enak.
Namun setelah dua suapan, Connor merasa
ada yang aneh. Rasanya tidak seperti biasanya.
“Pelayan—” Ia refleks memanggil, tapi
belum selesai bicara, kepalanya langsung pusing berat, seperti dunia berputar.
Ia sadar pasti ada yang mencampur sesuatu ke dalam mi.
Ia berusaha mengambil ponsel untuk
mengabari seseorang—siapa pun. Namun efek obat itu sangat cepat. Sebelum ia
berhasil meraih ponsel, tubuhnya ambruk.
Kepalanya terbentur meja. Setelah
itu, Connor tidak ingat apa pun.
Setelah entah berapa lama, ia membuka
mata perlahan. Kepalanya terasa seperti dihantam keras. Ia tidak tahu apa yang
terjadi. Ingatan terakhirnya hanya tentang makan mi, lalu pingsan.
Setelah terbiasa dengan rasa sakit di
kepalanya, ia mulai melihat sekeliling. Ia berada di sebuah ruangan bernuansa
Jepang, dengan sebuah kaligrafi kanji besar di dinding. Ruangan itu tampak
bagus, namun tubuh Connor terikat oleh tali yang sangat kuat. Ia berusaha
melepaskan diri, tapi tidak berhasil.
“Apakah ada orang di sana?” teriak
Connor. Tidak ada jawaban.
Ia tahu ia diculik, tapi tidak tahu
oleh siapa.
Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang
wanita dewasa dengan tubuh indah masuk. Ia mengenakan gaun hitam dan sepatu hak
tinggi. Tubuhnya berlekuk sempurna, wajahnya cantik dan penuh pesona. Ada hawa
dingin di matanya, dan rambut panjang berwarna ungu membuatnya terlihat semakin
memikat. Dada yang penuh dan kaki yang jenjang membuat daya tariknya sangat
kuat.
Namun Connor tidak sedang memikirkan
kecantikannya. Ia mencoba mengingat apakah ia pernah melihat wanita ini, tapi
ia tidak mengenalinya.
Di belakang wanita itu ada seorang
pria kekar berusia sekitar empat puluh tahun. Ia bertubuh tinggi dan berwajah
tegas. Connor bisa merasakan bahwa pria itu adalah seorang ahli bela diri
tingkat tinggi.
“Tuan McDonald, Anda baik-baik saja,”
kata wanita itu lembut sambil berjalan ke arahnya.
“Siapa kamu?” tanya Connor datar.
“Namaku Chieko,” jawabnya ringan.
“Chieko?” Connor agak terkejut. Nama
itu tidak terdengar seperti nama orang Opranian.
“Tuan McDonald, tidak perlu bingung.
Saya orang Opranian, tapi ibu saya orang Jepang, itu sebabnya nama saya seperti
ini,” jelas Chieko sambil tersenyum tipis.
No comments: