Bab 38
Nando kebetulan juga
ingin tahu tentang hubungan Nindi dengannya, jadi dia memerintah Sania, "
Keluarlah, tunggu aku di luar."
"Kak Nando."
"Menurut
saja!"
Meski sangat enggan,
Sania tidak punya pilihan selain pergi.
Nando menatap dokter
sekolah di hadapannya itu dari atas ke bawah. Dia memiliki wibawa yang kuat.
Jelas tidak berasal dari keluarga biasa-biasa saja.
Nando bertanya, "Di
mana Nindi?"
"Aku nggak harus
menjawabmu. Intinya, dia orang yang kulindungi. Aku nggak mau kalian
menyakitinya lagi sampai ujian masuk."
"Apa maksudmu
menyakiti Nindi? Dia adikku, aku nggak akan menyakitinya. Tapi kamu siapa? Cuma
dokter di sekolahnya. Orang asing. Apa sebenarnya yang kamu inginkan dengan
mendekatinya?"
Nando merasa dokter
sekolah ini sangat aneh.
Tatapan Cakra menajam.
"Itu bukan urusanmu."
"Nindi itu adikku,
kenapa bukan urusanku?"
Nando ingat. Orang ini
juga yang menelepon polisi untuk memastikan Leo pindah dan tidak mendekati
Nindi.
Cakra memasukkan satu
tangan ke dalam saku celananya. Raut mukanya dingin dan angkuh. "Urus saja
adik palsumu itu. Nindi nggak perlu kakak sepertimu."
Setelah dia mengatakan
kalimat itu, pintu lift terbuka dan seorang pria paruh baya keluar.
Melihat pria itu, Nando
segera berkata, "Pak Manajer, ada orang tak dikenal di sini."
Dia ingin mencoba
mencari tahu identitas dokter sekolah ini dari manajer restoran.
Ketika pria paruh baya
itu melihat Cakra dengan hormat, lalu menatap Nando. "Pak Nando, pelanggan
lain sudah keluar semua, mohon segera pergi."
Nando menatap Cakra.
"Tapi dia masih di sini?"
"Pak Nando, mari
saya antar."
Manajer itu tidak
menjawab pertanyaan Nando.
Nando dipersilakan masuk
ke dalam lift dengan sopan oleh seorang pelayan. Dia menatap Cakra yang masih
berdiri diam. Pria itu berbalik membelakanginya.
Punggungnya ramping dan
posturnya menggambarkan keangkuhan.
Manajer restoran berdiri
di sebelahnya. Kepalanya sedikit menunduk. Jelas menunjukkan bahwa dokter
sekolah ini bukan orang biasa.
Nando tiba-tiba teringat
pada Nindi.
Sejak kapan Nindi kenal
dengan orang seperti ini?
Nando mengingat
kepergian Nindi tadi serta perubahan sifat Nindi selama ini. Mungkinkah orang
ini yang membuat Nindi berani melawan keluarganya?
Nando sejenak merasa
pusing. Dia harus menyelidiki latar belakang pria ini dengan jelas.
Jangan menunggu sampai
Darren tahu. Karena kakaknya tidak mungkin menanggapinya dengan baik.
Dia harus menyelidikinya
sesegera mungkin.
Nando mengeluarkan
ponsel. Nindi tidak mengangkat teleponnya dan tidak membalas pesannya.
Nindi menyaksikan Nando
pergi. Cakra keluar dari lift dengan langkah pelan dan tegap. Tatapannya
tenang. "Mereka sudah pergi."
Nindi sedikit terkejut.
"Kamu bisa melakukannya?"
Tadi Cakra bilang
merekalah yang harusnya pergi. Beberapa menit kemudian, mereka benar-benar
pergi.
Nindi sempat berpikir
bahwa Cakra membual. Bagaimanapun juga, ini 'kan Kota Antaram.
Cakra berdiri diam di
depannya. "Aku minta bantuan teman."
"Temanmu itu hebat
sekali. Dia bisa mendapat akses ke lantai tiga dan bahkan mengosongkan
restoran."
Cakra berkata dengan
tenang, "Begitulah."
Nindi merasa lebih
tenang. Dia semakin penasaran tentang Cakra. "Temanmu itu siapa?"
Di Kota Antaram,
sepertinya tidak banyak keluarga yang dapat mencapai tingkat ini.
Cakra tampak enggan
menyebutkan. "Orang dari Yunaria."
"Pantas saja, pasti
orang kaya raya."
Yunaria adalah tempat
berkumpulnya kekuasaan dan kekayaan. Darren berjuang keras di Yunaria selama
beberapa tahun terakhir.
Universitas Yasawirya
juga merupakan kampus terbaik di Yunaria.
Nindi menatapnya dengan
mata bertanya-tanya. Kamu kenal teman ini dari mana? Teman sekelas?"
Apakah Cakra benar-benar
seorang dokter sekolah biasa?
No comments: